Sofyan Djalil Resmikan Pelaksanaan SDPN PII di Gedung Sate

Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII) menggelar Pembukaan Sidang Dewan Pleno Nasional (SDPN) PII periode 2017-2020 di Gedung Sate, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis, 7 Maret 2019.

Ketua Pelaksana SDPN PB PII, Fadli Islami Nazar memberikan laporan terkait kegiatan SDPN yang akan dilaksanakan selama 4 hari kedepan, “hingga saat ini, sudah hadir perwakilan dari 23 Pengurus Wilayah se-Indonesia dan satu perwakilan luar negeri, yaitu dari Mesir” jelas Fadli dalam penyampaian laporannya.

Rangkaian kegiatan SDPN PB PII terdiri dari seminar nasional, forum persidangan nasional dan Pertunjukan Seni budaya yang dilaksanakan selama 4 hari, pada 7-10 Maret 2019

Ketua Umum PB PII Husin Tasrik Makrup mengatakan, SDPN ini merupakan kegiatan yang menjadi wadah evaluasi kinerja paruh
periode kepengurusan PB PII dan juga evaluasi kinerja PII Secara menyeluruh

“Dalam setengah periode ini, PII perlu melakukan evaluasi untuk mengukur sejauh mana kinerja yang telah dilakukan oleh pengurus dan kader PII serta
sejauh mana pencapaian visi dan misi PII,” jelas Husin dalam sambutannya

Husin juga menambahkan bahwa di usia PII yang sudah 72 tahun ini, sejak pertama berdiri nya di Yogyakarta tahun 1947 PII semakin besar dan terus melakukan berbagai inovasi. Harapannya PII senantiasa menanamkan tiga komitmen pada kadernya yaitu komitmen kepelajaran, keislaman dan keindonesiaan.

Husin juga menegaskan sikap PII di tahun politik ini, “tidak lama lagi kita akan menghadapi pesta demokrasi, tentunya harus ditegaskan bawa kita tidak memihak kepada parpol manapun atau capres manapun, sesuai yang tertuang dalam anggaran dasar PII pasal 4.” tegasnya

Ketum PB PII asal Riau ini juga menyatakan kesiapannya untuk selalu mendukung program pemerintah sebagaimana yang sudah dilakukan PII sebelumnya, khususnya kebijakan pemerintah di bidang pendidikan yang sudah dijadikan fokus garapan sejak awal berdirinya.

Ketua Umum PW Keluarga Besar PII Jawa Barat, Ujang Sahrudin berterima kasih atas kehadiran pelajar se-Indonesia di Jawa Barat dan juga kepada sekda Jabar karena sudah memberikan kesempatan kepada adik-adik PII untuk melangsungkan acara di Gedung sate ini. Ia juga menceritakan sedikit pengalamannya ketika menjadi aktivis PII

“Tahun 50-an pasca agresi militer Belanda ke 2 kita yang pertama kali memberikan penghargaan kepada pelajar, dengan gelar bintang pelajar, dan kita juga yang menggagas progam AFS (American Field Service ~red), yang hingga kini masih ada”

Gubernur Jawa Barat
M. Ridwan Kamil yang sedianya akan menghadiri pembukaan SPDN diwakili oleh Sekda Jawa Barat, Iwa Kartiwa, menurutnya masyarakat Milenial harus menggunakan internet sebaik mungkin.

“Masyarakat Milenial, jika penggunaan internet hanya digunakan untuk peningkatan pendidikan, peningkatan pengetahuan dan peningkatan kapasitas, maka bisa dipastikan tahun 2045 Indonesia akan menjadi negara hebat” tegas dia dalam sambutannya

Iwa juga berbagai informasi kepada para hadirin terkait pertumbuhan ekonomi Jawa Barat selama ini, “pertumbuhan ekonomi Jawa Barat saat ini 5,6%, ini menunjukkan dengan APBD Jabar yang terbatas, kita bisa menggunakannya untuk pembangunan Jabar yang optimal”.

Pembukaan SDPN ini diakhiri dengan amanat kebangsaan oleh Sofyan Djalil sebagai menteri ATR yang juga pernah aktif di organisasi PII.

Sofyan Djalil berbicara tentang Kesiapan Indonesia menghadapi revolusi industri 4.0 dan langsung membuka acara SDPN PII secara resmi.

(Media centre PB PII)

Leadership Intermediate Training : PII Gagas Gerakan Sosial Kemasyarakatan

Pelajar Islam Indonesia mengadakan leadership rutin setiap pekan liburan sekolah tiba. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Pengurus Daerah maupun Pengurus Wilayah yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia.
Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PD PII) Kota Madiun dalam kesempatan liburan semester akhir tahun dipenghujung 2018 menyelenggarakan Leadership Basic Training dan Leadership Intermediate Training pada tanggal 20 – 30 Desember 2018. Bertempat di MI Islamiyah Rejomulyo, Kota Madiun, Provinsi Jawa Timur, LBT diikuti pelajar SMA dan SMA se-Jawa Timur sejumlah 75 peserta. Sedangkan LIT bertempat di Pondok Pesantren Al –Khoir Pilangrejo, Kota Madiun, Provinsi Jawa Timur sejumlah12 peserta.
Peserta pelatihan kepemimpinan rutin ini tidak seluruh yang mendaftar lantas diterima oleh tim instruktur. Ada berbagai proses screening yang harus dilalui oleh calon peserta. Mulai dari resensi buku, makalah, social project, bussiness project, kafasihan membaca al-qur’an, hafalan, dan daftar riwayat hidup. Setelah melalui proses screening, akhirnya 12 peserta delegasi Pengurus Daerah se-Jawa Timur terbaik yang diluluskan menjadi peserta LIT Madiun 2018.
Dengan berbagai dinamika perubahan sosial masyakarat, dituntut adanya pendekatan baru dalam menanamkan nilai-nilai Islam. Kader Pelajar Islam Indonesia merupakan kader yang dipersiapkan untuk memperbaiki struktur sosial masyarkat. Maka LIT kali ini mengusung tema “Menjadikan  Gerakan Sosial Kemasyarakatan Sebagai Wadah Aktualisasi Peran PII ”
LIT merupakan training tingkatan kedua di PII sebagai wadah pelatihan agar dapat beradaptasi dan menemukan inovasi dalam berdakwah  di masyarakat, khususnya masyarakat pelajar. Jika biasanya LIT dilaksanakan secara konvensional, Jawa Timur menggagas konsep baru yaitu LIT Desa. Pelatihan yang dilaksanakan indoor dan berkegiatan di masyarakat. Peserta LIT bermukim di rumah warga sekitar dan mereka menyambut dengan baik.
Pelajar Islam Indonesia mempunyai komitmen kuat untuk membangun generasi muda yang dapat memberikan kontribusi real untuk masyarakat di Indonesia. Bertepatan dengan musim liburan semester sekolah, semangat untuk mengupgrade diri, kepedulian dengan  lingkungan sekitar perlu dipupuk kembali. Selain itu, pelajar hari ini adalah pemimpin masa depan. Maka perlu adanya penyiapan dan pengawalan sejak dini, agar lebih matang dan siap mengemban amanah di masa depan. Momen ini sebagai refleksi PW PII Jawa timur menggagas agar PII kembali melakukan aksi eksternal di masyarakat. Peserta LIT tidak hanya diasah dalam skill kepemimpinan, namun juga skill sebagai agent of change di masyarakat. Sesuai tema yang diusung yang menfokuskan pada gerakan sosial kemasyarakatan sebagai langkah konkret untuk membangun masyarakat Islam yang beradab.  (Report : Yulia/ay)

PII Wati: Identitas Muslimah Pemimpin Transformatif

Bandung (31/12/2018). Koordinator Wilayah PII Wati Jawa Barat melaksanakan kegiatan kursus keperempuanan, yaitu Islamic Teenager’s Course for Muslimah (Isteecomah III) di SMP Darul Hikam Kota Bandung pada tanggal 26-31 Desember 2018.

Acara yang mengangkat tema “to be a good muslimah is not just character, good muslimah is a mindset” ini diikuti oleh 9 peserta dari berbagai wilayah: Jawa Barat, Banten, Jogjakarta, dan Sumatra Utara.

Berbagai materi dan ketrampilan dilatih selama proses training. Kreatifitas sangat dibutuhkan pada abad ke 21 ini, tanpa kreatifitas masyarakat akan menjadi monoton dan tidak bisa menyesuaikan dgn zaman.  Korps PII Wati berperan sebagai sterilisasi dalam pembentukan stereotip perempuan pada penggunaan media sosial. Dalam kegiatan Isteecomah III ini, perempuan akan dilatih untuk lebih peka terhadap zaman yang terus menuntut untuk semakin modern dan kreatif.

Korps PII Wati telah hadir di tengah-tengah pelajar putri secara khusus dan perempuan Indonesia secara umum selama 54 tahun. Berbagai pembinaan berbasis fitrah sudah banyak dilakukan untuk mewujudkan peradaban yang lebih baik. Menjadi muslimah pemimpin transformatif tentu membutuhkan ilmu dan pelatihan agar dapat berkiprah dan beresksistensi sesuai fitrah pada masyarakat.

“Mendidik perempuan adalah menyiapkan peradaban. Karena perempuan adalah manusia paling jenius dalam mendidik manusia, tentunya tanpa mengesampingkan untuk bermitra dengan laki-laki dalam mendidik.” kata Haslinda Satar, ketua koordinator pusat PII Wati Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia ketika membuka acara (26/12). (dd)

PII lebarkan sayap hingga ke perbatasan

Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII) bersama Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia Kalimantan Timur mengadakan Student Leadership Training dengan tema “To be Amazing Student” di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara yang berlangsung pada tanggal 26 – 29 Desember 2018. Kegiatan ini sebagai upaya untuk Pelajar mengisi liburan Sekolah dengan kegiatan yang bermanfaat.
“Penyelenggara kegiatan ini adalah PB PII, yang merupakan salah satu upaya mengembangkan PII di Kalimantan Utara. Selanjutnya kita mengajak PW PII Kaltim untuk kolaborasi mensukseskan kegiatan ini, karena berdasarkan aturan di PII, bahwa  PW PII terdekat bertanggung jawab untuk membina PW PII yang baru dibentuk” ungkap Faudzul tim dari PB PII.
Dari kegiatan yang berlangsung selama 4 hari di SMK Nurul Iman Sebatik TImur, mendapatkan apresiasi dan dukungan dari Muslihudin Abdurrasyid yang merupakan anggota DPD RI Kaltim – Kaltara, beliau mengatakan, “saya siap memfasilitasi kegiatan ini karena saya juga bertanggung jawab terkait pembentukan provinsi baru yaitu Kalimantan Utara yang rencananya tahun ini akan dipisah dari Kalimantan Timur”
Peserta Student Leadership Training berasal dari delegasi Pelajar kabupaten/kota se Kalimantan Utara, diantaranya Kabupaten Nunukan, Kabupaten Bulungan, Kota Tarakan, dan Pulau Sebatik yang berjumlah 30 orang.
Pembukaan kegiatan dihadiri langsung oleh pak Muslihudin, dan dibuka oleh perwakilan Kecamatan Sebatik Timur, hadir juga perwakilan dari Polsek dan Babinsa Pulau Sebatik
Terkahir Muslihudin berpesan, “Pendidikan adalah proses yang panjang, jadi lalui lah proses itu dengan penuh kesabaran. Nanti pada saatnya kita akan merasakan hasilnya” imbuhnya

Dua Kader PII ikuti konferensi di Pakistan

NATIONAL MODEL ORGANIZATION OF ISLAMIC COOPERATION (NMOIC) mengadakan Konferensi dengan tema peran penting pelajar dan pemuda Islam bagi dunia ,termasuk yang di prioritaskan problematika terkini,seperti krisis Syria, Al Quds, dan Ekonomi Islam. Kegiatan ini berlangsung pada 21 -23 Desember 2018 di Hotel Beach Luxury, Karachi ,Pakistan.
Dr.Abdullah Manafi, selaku Committe Ministers of Youth di konferensi membahas topik,” menciptakan intregasi sosial di Negara-Negara OKI melalui program pertukaran pelajar untuk menciptakan peluang pembangunan pemuda”
Sekitar 235 peserta delegasi dari 24 negara ambil bagian dari konferensi ini. Peserta delegasi berasal dari berbagai negara anggota OKI , seperti Indonesia, Turki, Sudan, dan 20 negara lainya. Dari Indonesia dihadiri 6 delegasi yang terbagi 5 committe dan 2 diantaranya adalah Muhammad Walid dari PII Jatim dan Roni Hardianto dari PII Sumut.
Dalam penuturan Dr.Muhammad Junaid Nadvi ,pembicara di Crisis Committee mengatakan, “Why should we join NMOIC? What makes you different than other simulations? These are the questions we have been asked on daily basis since NMOIC’s inception. To answer that, National MOIC Pakistan is different than others because we are not just saying but also are giving the best,
(Mengapa kita harus bergabung dengan NMOIC? Apa yang membuat Anda berbeda dari simulasi lainnya? Ini adalah pertanyaan yang telah kami tanyakan setiap hari sejak awal NMOIC. Untuk menjawab itu, MOIC Nasional Pakistan berbeda dari yang lain karena kami tidak hanya mengatakan tetapi juga memberikan yang terbaik)”
Hasil dari diskusi dari 7 komite ,akan ditindaklanjuti ke OIC dan dewan PBB.untuk ke depan nya berharap terwujud hasil diskusi dan semakin terorganisir negara negara muslim dalam ikatan satu umat.

PII Papua Barat menggelar Leadership Basic Training (LBT) dibeberapa titik kota dan Kabupaten se-Papua Barat

Sejumlah kegiatan positif dapat dilakukan dan juga diikuti pelajar untuk mengisi masa libur sekolah diakhir tahun, hal ini dilakukan agar tidak memberikan celah kepada pelajar untuk melakukan tindakan negatif yang dapat merugikan diri sendiri, salah satu kegiatan positif tersebut dilaksanakan oleh Pelajar Islam Indonesia (PII) Papua Barat dengan menggelar Leadership Basic Training (LBT) dibeberapa titik Kota dan Kabupaten se-Papua Barat.

Mewakili Perhimpunan Keluarga Besar PII yang merupakan alumni PII, Zulkifli Yahya mengatakan ada banyak aktivitas negatif yang dapat merugikan pelajar diusia emas, oleh karena itu pelajar saat ini harus cerdas memilih kegiatan seperti kegiatan LBT ini, sslain menambah wawasan, kemampuan memimpin juga dapat menjalin persaudaraan karena peserta yang datang dari berbagai sekolah.


“Tantangan dan perubahan zaman saat ini berlangsung sangat cepat, pelajar milenial yang tidak asing dengan gadget akan ssmakin larut dengan dunia digital, sayangnya jika ini tidak dilakukan maka akan berdampak buruk bagi keberlangsungan masa depan pelajar mengingat pelajar saat ini akan menjadi pemimpin dimasa akan datang” kata Zulkifli Yahya, Rabu (19/12/2018).


Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Wilayah PII Papua Barat Masykur Abdullah mengatakan dengan berlatih maka pelajar akan siap sedia dalam segala situasi, karena bakat memimpin ditanamkan sejak usia sekolah.


“Menjadi pemimpin akan memberikan dampak positif bagi pelajar, terbiasa memimpin maka kelak jika diminta menjadi pemimpin sudah terbiasa dan tidak kaku” jelas Masykur Abdullah.


Pelaksanaan Leadership Basic Training yang dilaksanakan di SMP Muhammadiyah Mariyai SP 1 Kabupaten Sorong tersebut akan berlangsung selama sepekan dengan materi pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. (Rep/Linda)

Latihan Kepemimpinan Pelajar “Disdikbud Jawa Tengah Membekali Pelajar dengan Pendidikan Karakter”

Pati (20/12) Latihan Kepemimpinan Pelajar se-Jawa Tengah telah resmi di buka oleh perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Cabang Wilayah III.

basic trainingintermediate trainingserta latihan brigade tingkat dasar.

Kegiatan yang bertempat di SMK Muhammadiyah I Kabupaten Pati berlangsung dari tanggal 20 sampai dengan 27 desember 2018. Sebanyak 96 yang merupakan delegasi dari 14 pengurus daerah di Jawa Tengah akan mengikuti beberapa pilihan training dan kursus diantaranya adalah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Cabang Wilayah III yang dalam hal ini diwakilkan oleh Drs H.Sunoto, M.M memberikan sambutan sekaligus materi pengantar tentang pendidikan karakter. Materi pendidkan karakter ini seharusnya disampaikan oleh wakil gubernur Jawa Tengah. 

Mengingat bahwa sebelumnya pengurus wilayah Pelajar Islam Indonesia (PII) Jawa Tengah telah melakukan audiensi kepada pihak gubernur untuk meminta dukungan terkait pelaksanaan latihan kepemimpinan pelajar.
Pendidikan karakter dirasa penting untuk di sampaikan kepada pelajar dalam rangka menyadarkan dan meneguhkan kembali semangat patriotsime serta rasa nasionalisme yang mulai terkikis karena adanya pengaruh pemikiran barat. Untuk itu pihak disdikbud berharap kepada pihak sekolah dan organisasi kepelajaran untuk terlibat dalam menyukseskan program ini. Di sekolah-sekolah biasanya materi pendidikan karakter ini disampaikan pada saat masa orientasi lingkungan sekolah.
Pelajar merupakan salah satu agen yang berperan dalam mengubah kehidupan bangsa Indonesia di masa depan harus senantiasa meng-uprage diri serta membentengi dari pengaruh pemikiran barat. Pemikiran tersebut cenderung akan menimbulkan prilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Maka dari itu perlu adanya pemahaman terkait pendidikan karakter agar pelajar dapat menjalankan fungsinya sebagai salah satu agen of change. (Red Umi).

Ketua DPRD Bangkep Hadiri LBT PII

Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PD PII) Banggai Kepulauan tengah melaksanakan latihan kepemimpinan Leadersip Basic Training (LBT) di Desa Ponding-ponding Senin, (17/12). Kegiatan yang digelar selama tuju hari ini menghadirkan Ketua DPRD Banggai Kepulauan, Rizal Arwi.

Dalam sajian materinya yang bertajuk leadership, Rizal menyebutkan bahwa, para peserta yang hadir di kegiatan tersebut adalah generasi pewaris kepemimpinan bangsa. Untuk itu menurutnya generasi muda hari ini harus senantiasa melatih diri dalam nilai-nilai Islam.

“Kalian para peserta ini adalah generasi masa depan dan pewaris kepemimpinan bangsa. Maka harus senantiasa melatih diri dan menjadikan nilai-nilai islam sebagai karakter diri,” ungkap Ketua DPRD Banggai Kepulauan tersebut.

Rizal juga melanjutkan materinya dengan menyebut bahwa kurang pahamnya pemimpin terhadap nilai-nilai Al-Qur’an, maka potensi tidak amanah menjalankan tugas negara sangat besar.

“Karena Kurang pemahaman terhadap Al-quran, akhirnya jika saat jadi pemimpin, ingkar terhadap amanah. Untuk itu setiap pemimpin harus bersandar pada Laa ilaaha illahu Muhammadan Rasulullah,” ujar Rizal di hadapan para peserta.

Sementara itu, Rafani Tuahuns, Ketua Umum PW PII Sulteng menyampaikan  pengahrgaan dan terima kasih kepada Ketua DPRD yang telah hadir dan memberikan materi kepada peserta.

Rafani juga menyampaikan bahwa para peserta sangat antusias dengan materi kepemimpinan yang dibawakan oleh ketua DPRD tersebut. Menurutnya materi itu sangat tepat dalam menyiapkan generasi muslim pemimpin masa depan bangsa.

“Muatan materi Ketua DPRD barusan itu sangat positif dan enerjik. Para peserta sangat termotivasi untuk terus menempa diri menjadi pemimpin masa depan negeri,” tutur Rafani yang juga bertugas koordinator Tim Instruktur.

Leadership Basic Training (LBT) PII kali ini di hadiri 70 peserta dari 10 sekolah di Kabupaten Banggai Kepulauan, dengan pelaksana kegiatan PD PII Bangkep yang diketuai Badar Diasamo.

Generasi Emas PII, OSIS, dan OSES

PADA 4 Mei 1947 di ibu kota Republik Indonesia, waktu itu Jogjakarta, berdiri organisasi yang diberi nama Pelajar Islam Indonesia (PII).  Digelar pertemuan di Kantor GPII, Jalan Margamulyo No. 8 Yogyakarta. Dalam pertemuan itu hadir Yoesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani, Amin Syahri, Ibrahim Zarkasyi, dan wakil-wakil organisasi pelajar Islam lokal yang telah ada. Pertemuan yang dipimpin oleh Yoesdi Ghozali itu diputuskan berdirinya organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) tepat pada pukul 10.00 WIB tanggal 4 Mei 1947. PII menjadi organisasi pelajar pertama yang berdiri di era setelah kemerdekaan. Tatkala Jogjakarta menjadi pusat perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan, anak-anak sekolahan dalam PII yang baru lahir itu langsung ikut menjadi pejuang. Momentum dan suasana kelahiran tersebut, dipadu dengan anutan ideologi plus gejolak usia remaja, membuat watak organisasi itu menjadi khas, yaitu fanatik, militan, idealis-utopis dibumbui dengan romantisme perjuangan.
Watak semacam itu tetap terbawa ketika bangsa Indonesia memasuki tahap mengisi kemerdekaan. Ketika itu berbagai kekuatan ideologi menjelma menjadi partai-partai politik yang saling bersaing. Ada dua ideologi dan partai yang jelas-jelas tidak mungkin dipersatukan, yaitu Masyumi (Majelis Syura Muslimin) yang mewakili agama dan PKI (Partai Komunis Indonesia) yang komunis-ateis. Di tengah persaingan sengit itu, sekalipun menyatakan diri sebagai organisasi independen, PII mau tidak mau memiliki kedekatan dengan Partai Masyumi. Saking dekatnya, orang-orang PKI menjulukinya “Masyumi berkatok pendek”.
Sikap antikomunis PII termanifestasi dalam kegiatan pengaderan. Baik sebagai bagian dari materi training, yel-yelnya, maupun nyanyian-nyanyian. Misalnya yang terdapat dalam sebuah lirik: …hai PII! Maju terus maju, galanglah ukhuwah islamiah, jadilah pemersatu umat, jadilah pedang umat Islam, hancur leburkan ateisme, maju terus pantang mundur!
Bagi PII, keberadaan Partai Masyumi dan dirinya memang memiliki sejarah khusus. Salah satu doktrin yang ditanamkan kepada kader PII adalah pentingnya menggalang persatuan umat Islam. Dalam Ikrar Malioboro para pemimpin Islam bersepakat akan pentingnya satu kesatuan umat Islam. Mereka berikrar hanya Masyumi-lah satu-satunya partai Islam, organisasi pelajarnya adalah PII, organisasi mahasiswanya HMI, organisasi pemudanya adalah GPII, dan Pandu Islam (PI) satu-satunya organisasi kepanduannya. PII juga merujuk fatwa yang pernah diucapkan Hadhratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU, bahwa haram hukumnya partai Islam selain Masyumi. Namun, kesepakatan itu berlangsung tidak lama karena pada 1948 PSII keluar dari Masyumi untuk menjadi partai politik sendiri dan disusul NU pada 1952.
PII pelan-pelan mulai kehilangan hak monopolinya ketika ormas dan orpol Islam mulai membentuk organisasi sayap pelajarnya sendiri. Di NU berdiri Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) pada 1954. Di Muhammadiyah, setelah terjadi pro-kontra akhirnya pada 1961 juga berdiri Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Kendati begitu, doktrin akan pentingnya satu kesatuan umat Islam tetap menjadi cita-cita utopia PII. Ketika pada 1960 Presiden Soekarno membubarkan Partai Masyumi, PII terkena imbasnya. PKI dan onderbouw-nya kian beringas terhadap si Masyumi bercelana pendek itu. Kasus yang sangat terkenal, misalnya, peristiwa Kanigoro pada 1965. Ketika itu BTI, organisasi onderbouw PKI, menyerbu tempat terselenggaranya training PII di Kanigoro, Kediri.
PII dan TNI
Pada 1966 keadaan jadi berbalik. Para aktivis PII -bersama IPNU, IPM, GSNI, dan lain-lain- dengan dukungan ABRI ramai-ramai mengganyang PKI melalui Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI). Beda dengan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) yang wilayah operasinya terbatas di kota-kota perguruan tinggi, jangkauan KAPPI bisa sampai ke pelosok tempat sekolah. Mereka bekerja sama dengan ABRI sampai level komando paling bawah, yaitu koramil. Saking dekatnya para aktivis KAPPI dengan ABRI, mereka semacam mendapat prioritas diterima di Akabri. Terutama ketika gubernur Akabri dijabat Sarwo Edhie (1970-1973). Banyak lulusan Akabri angkatan tahun ’70-an yang berasal dari aktivis KAPPI, terutama PII. Sebagaimana kita tahu, mertua Presiden SBY itu tatkala menjadi komandan RPKAD (1964-1967) sangat terkenal dalam memimpin penumpasan G 30 S/PKI.
Seperti melupakan andil organisasi-organisasi siswa ekstrasekolah (OSES), justru kemudian pemerintah Orde Baru secara sistematis mencegah kehadiran organisasi ekstrasekolah masuk di sekolah. Di sekolah hanya boleh ada OSIS (organisasi siswa intrasekolah) dan pramuka.
Bagaimanapun, organisasi ekstra sekolah telah menunjukkan keunggulannya dalam menyiapkan pemimpin-pemimpin bangsa. Sebut saja, misalnya, PII telah melahirkan Jusuf Kalla. GSNI melahirkan Taufik Kiemas, dari IPM memunculkan Busyro Muqoddas. Kalau ada kekhawatiran organisasi ekstra memunculkan sikap fanatisme sempit dan kaku, itu tidak sepenuhnya benar. Bisa disaksikan bahwa PII bisa melahirkan tokoh NU seperti KH Hasyim Muzadi sekaligus tokoh Muhammadiyah seperti Prof A. Malik Fadjar. IPNU yang notabene organisasi sayap NU bisa melahirkan tokoh Muhammadiyah seperti Prof M. Din Syamsuddin. Di jajaran kabinet saat ini ada para menteri yang mulai mengasah bakat kepemimpinan sejak usia remaja melalui organisasi ekstrasekolah.